4 Mitos Tentang Keperawanan Wanita yang Menyesatkan

Mitos keperawanan wanita harus diluruskan

Konsep keperawanan sangat melekat pada wanita Indonesia. Tes keperawanan  bahkan menjadi salah satu syarat untuk masuk ke beberapa institusi tertentu. Sayangnya, hal tersebut hanya digaungkan dari satu sudut pandang saja, masyarakat tidak dibekali dengan pengetahuan terkait keperawanan wanita itu sendiri.

Banyak informasi yang menyesatkan terkait keperawanan wanita, mulai dari persoalan selaput dara hingga darah yang keluar ketika malam pertama. Padahal, hal tersebut dapat dikonfirmasi kebenarannya dengan pengetahuan kesehatan reproduksi yang memadai.

Agar tidak terus terjebak dalam kesesatan informasi, berikut ini 7 mitos yang sering dibicarakan terkait keperawanan wanita dan pembahasannya dari sisi ilmiah.

Mitos #1: Selaput dara yang rapat tanda perawan

Hal tersebut benar-benar salah kaprah. Faktanya, selaput dara wanita tidak benar-benar tertutup. Selaput dara normal memiliki lubang kecil berbentuk bulan sabit. Jika selaput dara tertutup rapat, justru menandakan adanya kelainan.

Beberapa wanita memiliki selaput dara yang tertutup rapat, hymen imperforata namanya. Namun, alih-alih menandakan keperawanan wanita, kondisi ini justru sebuah kelainan. Tertutupnya selaput dara membuat darah menstruasi tidak dapat keluar yang mengakibatkan wanita tersebut mengalami nyeri punggung dan perut setiap kali menstruasi, akibat tumpukan gumpalan darah menstruasi.

Ada juga wanita yang memiliki selaput dara dengan bukaan kecil, disebut microperforate hymen.Dengan adanya bukaan kecil, darah menstruasi dapat keluar, namun biasanya sulit. Sehingga wanita yang memiliki selaput dara tertutup atau bukaan kecil perlu dioperasi agar lubang bukaannya lebih besar. Dengan demikian, darah menstruasi dapat keluar dengan lancar.

Mitos #2: Perempuan perawan pasti berdarah saat pertama kali berhubungan seks

Perempuan sering dihakimi sebagai perempuan nakal jika tidak mengalami perdarahan saat berhubungan seks pertama kali. Padahal perdarahan justru terjadi apabila ada bagian organ kewanitaan yang robek dan menimbulkan pendarahan.

Hal tersebut tidak selalu terjadi sebab selaput dara bersifat elastis. Jadi, meskipun ada penetrasi ke vagina bisa saja tidak robek dan berdarah. Perdarahan paling umum terjadi pada wanita dengan bukaan selaput dara kecil atau bila hubungan seksual dilakukan pada usia sangat belia. Sungguh tidak ada kaitannya dengan status keperawanan wanita.

Mitos #3: Jika wanita tidak merasa sakit saat malam pertama artinya sudah tidak perawan

Ada beberapa hal yang membuat proses penetrasi terasa sakit. Hal yang paling umum, melakukan penetrasi membuat tegang, sehingga otot di sekitar vagina menjadi lebih kencang. Akibatnya, terasa sakit dan tidak nyaman saat proses penetrasi.

Untuk mempermudah penetrasi, vagina secara alami akan mengeluarkan cairan pelumas. Rasa sakit mungkin timbul jika penetrasi dilakukan saat vagina belum cukup mengeluarkan cairan pelumas. Hal ini bisa karena kurang foreplay atau vagina wanita memang cenderung kering karena konsumsi obat tertentu.

Jadi, tidak semua wanita akan merasa sakit saat berhubungan seks pertama kali. Ketika wanita tidak merasa sakit, bukan berarti karena sudah terbiasa berhubungan seks, melainkan memang banyak faktor yang memengaruhi seperti telah disebutkan sebelumnya.

Mitos #4: Selaput dara robek, pasti sudah pernah berhubungan seksual

Bukan hanya penetrasi yang dapat mengubah bentuk selaput dara. Ya, mengubah bentuk, bukan robek. Kegiatan-kegiatan seperti menunggang kuda, mengendarai sepeda, memanjat pohon, bahkan senam atau berdansa, bisa mengubah bentuk selaput dara.

Perlu dipahami juga, wanita mungkin sudah mengalami penetrasi tanpa hubungan seksual. Contoh, melakukan pemeriksaan pap smear atau menjalani prosedur USG transvaginal. Kedua prosedur tersebut membutuhkan penetrasi peralatan medis ke vagina. Sampai saat ini, mitos menyesatkan seputar keperawanan wanita masih sering terdengar. Padahal, banyak sekali informasi yang tidak tepat, terutama dari sisi kesehatan. Bahwa selaput dara bukanlah tolak ukur keperawanan atau istilah robeknya selaput dara sama sekali tidak tepat bila dilihat dari sisi ilmiah. Pandangan yang keliru tersebut perlu dihilangkan dengan memperbanyak wawasan, bisa melalui bacaan yang terpercaya atau berkonsultasi dengan tenaga medis profesional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *