Disebut Penyakit Ciuman, Kenali Tanda-Tanda Gejala Mononukleosis

Pernahkah Anda mendengar nama mononukleosis yang disebut juga dengan penyakit ciuman (kissing disease)? Penyakit ini merupakan kondisi yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV) dan penyebarannya terjadi melalui air liur. Penyebarannya itulah yang mendasari sebutan penyakit ciuman bagi kondisi ini.

mononukleosis

Umumnya, mononukleosis lebih sering terjadi pada remaja atau anak-anak. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa juga mungkin akan mengalaminya. Kondisi ini bukanlah kondisi serius dan bisa diobati. Akan tetapi, apabila tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini mungkin akan menimbulkan berbagai komplikasi yang berbahaya.

Mengenal gejala mononukleosis

Pada anak-anak, gejala dari kondisi ini seringkali tidak terdeteksi. Hal ini karena gejala yang muncul sangat ringan dan tidak dikenali sebagai gejala mononukleosis karena serupa dengan kondisi penyakit lain.

Umumnya, penderita mononukleosis akan mengalami demam tinggi, sakit tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar getah bening sebagai gejalanya. Kemunculan gejala ini biasanya memakan waktu sekitar empat hingga tujuh minggu. Selain itu, penderita juga mungkin akan merasakan gejala lain, seperti:

  • Sakit kepala
  • Otot melemah
  • Ruam berupa bintik-bintik merah dan ungu di sekitar kulit dan mulut
  • Pembengkakan amandel
  • Berkeringat saat malam hari
  • Kelelahan

Tidak ada gejala yang fatal dari kondisi penyakit ini. Akan tetapi, dalam beberapa kasus tertentu, penyakit ini mungkin bisa menimbulkan gejala berbahaya berupa pembengkakan limpa dan hati. Akan tetapi, hal ini sangat jarang terjadi.

Setiap penderita memiliki masa inkubasi yang berbeda-beda sebelum mulai merasakan gejala. Masa inkubasi adalah periode antara waktu Anda terkena infeksi virus sampai mulai mengalami gejala.

Biasanya, masa inkubasi ini beragam, namun berada pada rentang waktu empat sampai enam minggu. Pada anak-anak, masa inkubasi mungkin lebih singkat. Setelahnya, gejala yang dialami bisa bertahan selama satu sampai dua bulan.

Gejala umum seperti demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan sakit tenggorokan biasanya akan membaik setelah 1-2 minggu. Akan tetapi, gejala yang lebih berat seperti pembengkakan pada limpa dan hati akan berlangsung lebih lama.

Gejala-gejala yang disebutkan di atas sangat mirip dengan gejala dari berbagai kondisi lain, salah satunya flu. Apabila kondisi Anda tidak kunjung membaik setelah 1-2 minggu meski telah mengonsumsi obat flu, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Bisa jadi, gejala yang Anda rasakan merupakan gejala dari mononukleosis.

Komplikasi penyakit mononukleosis

Meski tidak berbahaya, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi yang berbahaya apabila tidak segera diatasi. Berikut ini beberapa komplikasi yang disebabkan oleh kondisi mononukleosis.

  • Pembesaran limpa

Pembesaran limpa merupakan gejala sekaligus komplikasi dari kondisi mononukleosis. Pada kasus yang sangat parah, limpa bisa saja pecah secara tiba-tiba dan menimbulkan rasa nyeri yang menusuk di sisi kiri perut bagian atas.

Pecahnya limpa bisa terjadi karena beberapa faktor pemicu, seperti berolahraga, mengangkat beban berat, dan melakukan aktivitas berat lainnya. Untuk mencegah hal ini, Anda perlu membatasi diri dari aktivitas pemicu selama kurang lebih satu bulan setelah gejala membaik.

  • Peradangan hati

Komplikasi berbahaya lainnya adalah peradangan hati. Pada penderita mononukleosis, peradangan hati bisa menimbulkan hepatitis atau radang hati ringan. Dalam kasus yang lebih parah, Anda mungkin akan menderita penyakit kuning.

Meski begitu, komplikasi ini sangat jarang terjadi. Hal ini bisa dihindari dengan upaya pengobatan yang cepat dan teratur. Mononukleosis merupakan penyakit ringan yang bisa disembuhkan dengan mudah. Walau dapat menimbulkan komplikasi berbahaya, kondisi ini dapat dihindari dengan melakukan pemeriksaan sedini mungkin dan mengenali gejalanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *