Kini Virus Corona Tidak Hanya Ada pada Benda

Virus corona jenis baru, SARS-CoV-2, membuat seluruh dunia geger sejak awal tahun 2020 ini. Keberadaannya telah menjadi pandemi dari penyakit yang belakangan disebut Covid-19. Ratusan ribu orang di hampir seluruh dunia terpapar penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini. Sementara  belasan ribu di antaranya harus merenggang nyawa. Awalnya virus ini ditularkan melalui droplet atau perpindahan cairan (ludah, percikan batuk, dsb) penderita ke orang lain. Virus corona juga dapat bertahan pada benda dan siap berpindah ke orang lain yang menyentuhnya.

Namun, belakangan situasi ini telah berubah. Virus ini telah berkembang sehingga dapat bertahan di udara. Artinya, virus corona yang bermula dari Wuhan, Hubei, Tiongkok ini memiliki kemungkinan untuk ditularkan dengan cara airbone.

Hal itu disampaikan oleh organisasi kesehatan dunia, WHO. Namun, kondisi ini tak serta merta membuat virus itu ada di setiap udara yang kita hirup. Ada beberapa faktor yang menjadi penentu, seperti suhu dan kelembapan udara.

Perkembangan virus corona yang dapat bertahan di udara ini juga diamini oleh dr. Rebriarina Hapsari, M.Sc., Sp.MK. Dia adalah seorang Spesialis Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Dia mengatakan penularan bisa terus terjadi di udara, apabila partikel droplet yang dikeluarkan berukuran sangat kecil.

“Penelitian terakhir tiga jam itu masih berada di ruangan. Semuanya tergantung pada suhu dan kelembapan ruangan tersebut. Jika ruangan tersebut suhu dan kelembapannya tinggi itu akan lebih cepat jatuh dan cepat rusak virusnya,” terang dr. Rebriarina.

Oleh sebab itu dr. Rebriarina mengimbau masyarakat untuk memperhatikan ventilasi dan sirkulasi udara yang ada di rumahnya. Terlebih bagi masyarakat yang sedang mengkarantina diri sendiri atau melakukan work from home (WFH).

Sebelumnya diberitakan bahwa SARS-CoV-2 bisa bertahan pada permukaan benda dalam jangka waktu tertentu. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Hospital Infection pada bulan Februari lalu menganalisis 22 studi mengenai virus-virus corona sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapat lebih banyak gambaran mengenai berapa lama virus tersebut dapat bertahan hidup pada benda atau permukaan.

Meski penelitian tersebut belum dapat memastikan berapa lama virus corona ini dapat bertahan pada permukaan benda, tetapi kemungkinan besar tidak akan jauh berbeda dari Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) coronavirus, Middle East Respiratory Syndrome (MERS) coronavirus, atau endemic human coronavirus (HCoV) karena masih satu keluarga dengan virus-virus corona tersebut.

Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ada beberapa benda yang rawan menjadi tempat penularan virus corona, yaitu pegangan pintu, pegangan tangga, tombol lift, alat makan, gadget, dan tangan orang yang sakit.

Adapun di bawah ini ada semacam kemungkinan mengenai berapa lama virus corona bisa hidup di permukaan benda:

  • Pada baja, virus corona dapat bertahan selama 48 jam atau 2 hari
  • Pada alumunium, virus corona dapat bertahan selama 2-8 jam
  • Pada logam, virus corona dapat bertahan selama 5 hari
  • Pada kayu, virus corona dapat bertahan selama 4 hari
  • Pada kertas, virus corona dapat bertahan selama 4-5 hari
  • Pada kaca, virus corona dapat bertahan selama 4 hari
  • Pada plastik, virus corona dapat bertahan selama 5 hari atau kurang
  • Pada karet silikon, virus corona dapat bertahan selama 5 hari
  • Pada lateks, virus corona dapat bertahan selama 8 hari
  • Pada keramik, virus corona dapat bertahan selama 5 hari
  • Pada teflon, virus corona dapat bertahan selama 5 hari.

Karena lamanya virus corona bertahan hidup pada benda, menjadi amat penting bagi kita untuk selalu waspada terhadap sekitar. Mencuci tangan dan tidak memengang bagian wajah sembarang menjadi kunci utama untuk menghindari paparan virus tersebut. Jika perlu, pembersihan barang-barang berisiko tinggi dengan disinfektan dilakukan sesering mungkin untuk memutus mata rantai penyebarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *