Kondisi-Kondisi yang Meningkatkan Risiko Bayi Memiliki Kelamin Ganda

Normalnya, bayi terlahir ke dunia dengan membawa satu gender dan karakter, maskulin atau feminin. Namun, ada fenomena yang menyebabkan bayi memiliki kelamin ganda. Artinya, ia terlahir dengan membawa dua gender dan karakter sekaligus.

Dalam dunia medis, kelamin ganda dikenal dengan istilah ambiguous genitalia atau genitalia ambigu. Definisinya sama seperti yang telah disebutkan di atas, yakni bayi memiliki dua jenis alat kelamin, yakni pria dan wanita, dan ini adalah kondisi yang amat langka.

Pada dasarnya kelamin ganda bukan suatu penyakit. Kondisi ini hanya akibat dari gangguan perkembangan seks yang baru diketahui ketika bayi lahir. Perkembangan seks yang dimaksud berkaitan dengan mekanisme di dalam kandungan ibu di mana pada akhirnya membuat alat kelamin janin tidak berkembang sempurna. Akibatnya, bayi tersebut memiliki dua jenis kelamin.

Umumnya, kondisi seperti ini lebih banyak dialami oleh pria daripada wanita. Gangguan perkembangan di dalam kandungan tersebut menyebabkan terjadinya ketidakcocokan antara wujud alat kelamin eksternal dengan jenis kelamin genetik. Nah, kondisi-kondisi yang memiliki risiko menyebabkan terjadinya kelamin ganda antara lain:

  1. Androgen Insensitivity Syndrome (AIS)

Gampangnya, kondisi ini merupakan kelainan genetik yang membuat suatu ketidakcocokan jaringan janin terhadap hormon pria. Sindrom ini menyebabkan bayi laki-laki terlahir dengan jenis kelamin ganda atau jenis kelamin perempuan.

Beberapa keluhan atau gejala yang bisa terlihat saat bayi mengalami Androgen Insensitivity Syndrome adalah bayi memiliki vagina tetapi tidak memiliki rahim dan indung telur atau bayi yang memiliki penis yang tidak berkembang sempurna dan mengalami kriptorkismus.

  • Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH)

Sama seperti kondisi sebelumnya, kondisi ini juga merupakan jenis dari kelainan genetik. Congenitial Adrenal Hyperplasia terjadi ketika kelenjar adrenal bekerja terlalu aktif, sehingga jumlah hormon androgen yang diproduksi menjadi berlebihan. Akibatnya, bila terjadi pada wanita, CAH akan membuat penampilan fisik penderitanya menjadi lebih maskulin.

Penyakit ini juga dapat terjadi pada pria, tetapi gejalanya berbeda dengan gejala CAH pada wanita. CAH ini merupakan kondisi bawaan yang memengaruhi produksi hormon.

  • Gangguan Kromosom Seks

Seharusnya, bayi akan terlahir dengan kode kromosom seks XX atau XY. Namun, pada kasus kelamin ganda, bayi tersebut membawa paduan keduanya, XY. Selain itu, bisa juga gen spesifik pada kromosom Y tidak aktif atau salah satu dari kromosom X memiliki kromosom Y sedikit yang melekat.

Penelitian di Universitas California Los Angeles (UCLA) menunjukkan kelamin ganda bisa disebabkan oleh penggandaan gen tertentu pada kromosom seks. Pastinya kelamin ganda ini bisa mengganggu perkembangan seksual laki-laki. Oleh karena itu, bayi yang secara genetis laki-laki bisa terlihat seperti perempuan.

  • Faktor Ibu

Ibu hamil yang memiliki tumor mungkin menyekresi androgen selama masa kehamilan. Selain itu, kelebihan hormon pria juga bisa memengaruhi perkembangan genital bayinya.

Dalam kasus lain, plasenta mungkin kekurangan enzim tertentu yang gagal menonaktifkan hormon laki-laki. Akibatnya bayi yang terlahir perempuan justru maskulin dan kelebihan hormon pria.

***

Seorang anak yang terlahir dengan kelamin ganda memang memprihatikan. Sebab mereka akan menemui banyak masalah pada kehidupannya kelak. Seseorang yang memiliki kelamin ganda juga, mungkin, akan terus berada dalam fase “pencarian jati diri”, dan kenyataan itu sungguh menyesakkan bagi orang-orang terdekatnya.

kelamin ganda

Mungkin saat ini dunia medis sudah memiliki prosedur untuk “mengatasi” masalah kelamin ganda ini. Namun, hakikatnya itu tidak menyelesaikan masalah sepenuhnya. Yang pasti, dukungan moril untuk mereka wajib senantiasa diberikan agar dapat melalui kehidupan ini dengan dagu terangkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *