7 Sebab Anda Malas Berhubungan Seks

Awal hubungan yang mesra selalu dipenuhi dengan sesi bercinta yang rutin. Namun, frekuensi intim ini perlahan berkurang dan Anda kian malas berhubungan seks dengan pasangan. Walaupun fase ini normal bagi tiap pasangan, namun jika sesi bercinta yang kurang dari 1 kali sebulan biasanya selalu punya penjelasan tersendiri. Jika Anda malas berhubungan seks, cari tahu dulu penyebabnya supaya hubungan tetap langgeng dengan pasangan.

  1. Anda Kecapekan

Capek pada fisik bisa mempengaruhi gairah seksual. Phillip A Rutter PhD seorang psikologis dari Philadelphia menerangkan bahwa lelah secara fisik dan mental menyebabkan Anda malas berhubungan seks. Solusinya? Coba ganti jadwal seks di pagi hari di mana pria sudah setengah ereksi sehingga wanita tidak perlu ekstra repot lagi.

  1. Terjebak Rutinitas

Adalah normal jika minat dan ketertarikan pasangan mulai berkurang seiring waktu. Jika pasangan tidak lagi terlihat menarik dan Anda malas berhubungan seks, bisa jadi Anda terjebak dalam rutinitas yang membosankan. Coba cari cara untuk menghidupkan kembali gairah seksual, misalnya berfantasi seksual, menggunakan alat bantu seks, hingga mencoba posisi seks yang baru.

  1. Terlalu Banyak Minum

Seks dan alkohol akan memperumit hubungan Anda. Rutter menjelaskan bahwa alkohol memang bisa memengaruhi mood bercinta, namun jika terlalu banyak akan membuat wanita sulit sulit mencapai orgasme. Sedangkan untuk pria, kebanyakan alkohol bisa menyebabkan disfungsi ereksi atau masalah ejakulasi.

Seks yang dilakukan oleh orang yang sedang mabuk bisa membawa beberapa petaka, mulai dari lalai menggunakan proteksi hingga menyebabkan penyakit menular seksual hingga kehamilan tak direncanakan. Supaya aman, batasi konsumsi alkohol Anda.

  1. Faktor Teknologi

Terlalu banyak menggunakan ponsel, gawai, dan sebagainya membuat Anda malas berhubungan seks. Distraksi teknologi ini sering mengancam momen intim antar pasangan, padahal Anda harus ingat kalau tempat tidur hanyalah untuk dua kegiatan utama saja, yaitu seks dan tidur.

  1. Kurang Percaya Diri

Anda merasa tidak menarik? Bagi pria atau wanita yang tidak percaya diri, gairah seks akan menurun secara drastis. Jika pasangan Anda kurang pede, coba berikan pujian tentang bagian anggota tubuh favorit Anda. Sebaliknya, jika Anda yang kurang pede, dengarkan pujian pasangan dan jadikan pemantik hubungan asmara dalam bercinta.

  1. Terlalu Stres

Apa pun penyebab Anda merasa stres, jika dibawa ke ranjang maka akan membuat Anda malas berhubungan seks. Stres akan menghalangi proses membuka diri baik secara fisik maupun emosional terhadap pasangan. Berbincang dengan pasangan akan membuat Anda merasa lebih lega sehingga mood bercinta pun lebih hangat.

  1. Perselisihan

Pasangan yang ingin memiliki hubungan seksual memuaskan sebaiknya jangan sering memendam perasaan akibat perselisihan. Utarakan dengan pasangan apa yang mengganggu benak Anda sebelum kalian berangkat ke ranjang bersama.

Read More

Panduan Lengkap Memahami Gangguan Tidur Anda

Dalam kasus tidur normal, siklus tidur terdiri dari REM (Rapid Eye Movement) dan 4 fase non-REM (NREM) yang terjadi dalam beberapa kali dalam satu malam. Fase 1 dari NREM adalah tidur ringan, sedangkan fase 4 adalah paling lelap.

Jika siklus tidur Anda terinterupsi secara terus menerus dan tidak dapat melalui secara normal tipe-tipe dan tahapan-tahapan tidur ini, Anda akan merasa lelah, letih, dan sulit berkonsentrasi atau fokus di pagi harinya. Kurang tidur dapat meningkatkan resiko bahaya saat berkendara atau kecelakaan lainnya.

Jenis-Jenis Gangguan Tidur

  • Gangguan Ritme Sirkadian

Ritme sirkadian adalah kinerja jam biologis tubuh yang merupakan bagian kecil dari otak yang terletak di atas saraf-saraf berdekatan dengan belakang bola mata manusia. Cahaya dan olahraga akan menyetel jam ini dengan pergeseran maju atau mundur. Gangguan tidur muncul ketika terjadi gangguan pada bagian ini, seperti jet lag, jam kerja malam, sindrom fase tidur yang tertunda (tidur dan bangun telat), dan sindrom fase tidur lanjutan (tidur dan bangun awal).

  • Insomnia

Orang yang memiliki gangguan tidur insomnia tidak merasa memiliki waktu tidur malam yang cukup. Mereka akan mengalami gangguan tidur, seperti sulit tertidur atau sering terbangun di tengah malam. Insomnia adalah gangguan tidur yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari Anda dan bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya stres, kecemasan, depresi, tabiat tidur yang buruk, gangguan ritme sirkadian, dan pengaruh obat-obatan.

Penyebab insomnia bisa sementara dan terkadang karena hal sepele, misalnya jetlag. Insomnia jangka pendek bisa disebabkan oleh penyakit, kafein, dan obat-obatan. Sedangkan insomnia jangka panjang bisa karena stres, depresi, atau kecemasan yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

  • Mendengkur

Banyak orang dewasa yang mendengkur. Suara dengkuran dihasilkan ketika udara yang dihirup bergetar saat melewati jaringan tenggorokan. Mendengkur bisa menjadi gangguan tidur karena suara yang dihasilkan ini, sekaligus juga bisa menjadi tanda adanya gangguan tidur yang serius yaitu apnea.

Penyebab gangguan mendengkur bisa dikarenakan alergi, asma atau kelainan pada struktur hidung.

  • Apnea

Gangguan tidur apnea muncul ketika jalur pernafasan atas Anda terblokir (total atau parsial), sehingga mengganggu pernafasan normal dalam periode waktu yang singkat. Anda lalu akan terbangun karena gangguan tidur ini, kemudian menyebabkan mengantuk berat keesokan harinya. Jika gangguan tidur ini dibiarkan, ada resiko tekanan darah tinggi, stroke, dan serangan jantung.

Apnea bisa melanda siapa saja, tanpa melihat usia, berat badan, atau jenis kelamin. Gangguan tidur ini terjadi karena pada rata-rata kasusnya, penderita memiliki tenggorokan dalam yang lebih kecil daripada normal serta perbedaan pada tulang dan jaringan lunak.

  • Kehamilan

Wanita hamil bisa mengalami gangguan tidur pada malam hari dan lelah keesokan harinya, pada trimester pertama dan ketiga sepanjang kehamilan. Pada trimester pertama, wanita hamil harus sering terbangun untuk menggunakan toilet dan juga mengalami morning sickness yang mengganggu tidur. Pada trimester ketiga, mimpi dan kondisi fisik juga bisa menyebabkan gangguan tidur. Setelah anak lahir, wanita harus menjaga bayi atau mengalami depresi pasca melahirkan yang bisa menyebabkan gangguan tidur.

Penyebab gangguan tidur semasa kehamilan sering berkaitan dengan perubahan kadar hormon tubuh, membesarnya bagian perut, cemas atau khawatir berlebihan, dan sebagainya.

  • Narkolepsi

Narkolepsi adalah gangguan atau kelainan otak yang menyebabkan rasa ngantuk berat pada pagi/siang hari. Ini berkaitan dengan komponen genetik, walaupun tidak mutlak. Serangan tidur yang dramatis dan mendadak sering diasosiasikan dengan narkolepsi, namun banyak kasus narkolepsi yang tidak mengalami hal tersebut.

Penyebab narkolepsi tidak dapat dipastikan, dimulai dari genetik, kondisi lingkungan. hingga fungsi syaraf yang abnormal.

  • Restless Leg Syndrome

Restless Leg Syndrome adalah rasa tidak nyaman pada kaki yang terjadi pada malam hari. Penderita akan merasakan keinginan untuk menggerakkan kaki supaya merasa lega, biasanya gerakan yang eksesif, beritme, atau punya siklus tertentu. Ini bisa mengakibatkan gangguan tidur yaitu tidur menjadi tertunda atau terbangun saat tidur. Sindrom ini umumnya sering menimpa paruh baya dan manula.

Penyebab sindrom ini antara lain gagal ginjal, kelainan syaraf, kekurangan vitamin dan zat besi, kehamilan dan pengaruh obat-obatan seperti antidepresan. Faktor genetik juga berpengaruh hingga 40% dari kasus Restless Leg Syndrome.

  • Mimpi Buruk

Mimpi buruk terjadi pada fase REM yang bisa dipicu oleh stres, kecemasan, dan pengaruh obat-obatan. Sering, tidak ada penyebab jelas atas mimpi buruk namun bisa terjadi karena dipicu stres atau peristiwa menakutkan tertentu.

  • Teror Malam (Night Terror) & Berjalan saat Tidur (Sleepwalking)

Kedua gangguan tidur ini terjadi pada fase NREM dan sering melanda anak-anak berusia 3-5 tahun. Kasus gangguan tidur ini bisa sangat dramatis, biasanya anak akan terbangun sambil menjerit namun sulit menjelaskan rasa ketakutan mereka ataupun mengingat gambaran yang mengerikan namun tidak bisa mengingatnya. Teror malam sering lebih mengkhawatirkan orangtua daripada anak itu sendiri. Sedangkan sleepwaking adalah serangkaian aktivitas yang terjadi saat seseorang tidur dan punya potensi berbahaya, seperti meninggalkan rumah dalam kondisi tidur.

Hal-Hal Lain yang Bisa Menyebabkan Gangguan Tidur

  • Usia Muda: Balita membutuhkan tidur selama 16 jam tetapi sering mendapatkan interupsi karena harus menyusui, sedangkan anak usia sekolah harus tidur selama 10 jam tetapi bisa terkendala penyakit atau hal-hal lainnya.
  • Usia Tua: Untuk usia 60 tahun ke atas, gangguan tidur kerap terjadi seperti apnea dan tidak bisa tidur pulas.
  • Gaya hidup: Peminum kopi, alkohol, dan perokok sering memiliki gangguan tidur
  • Obat-obatan: Banyak obat yang menimbulkan gangguan tidur
  • Depresi & Gangguan Kecemasan: Insomnia adalah gejala umum depresi dan gangguan kecemasan
  • Gangguan jantung & paru-paru: Penderita dengan gangguan tidur sering mengeluh kesulitan bernafas yang bisa merupakan gejala gagal jantung atau gangguan paru-paru
Read More

Tips Mendukung Tahapan Perkembangan Anak 23 Bulan

Pada perkembangan anak 23 bulan, umumnya anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat atau dengar.

Tidak terkecuali, apa yang diucapkan oleh orangtua atau orang-orang di lingkungannya. Balita juga bisa mengulangi atau lebih tepatnya, menirukan perkataan orang yang sering ia dengar.

Sebenarnya, kemampuan anak untuk meniru orangtua adalah tanda-tanda yang baik dalam perkembangan anak 23 bulan.

Sayangnya, jika anak mendapatkan teladan atau contoh yang kurang baik, tentu hal ini akan menjadi bumerang bagi orang tua.

Jadi, sebaiknya Anda berhati-hati dalam berbicara dan melakukan tindakan di depan anak. Berusahalah untuk lebih selektif dalam menonton acara TV, menonton video Youtube, atau mendengarkan musik yang sesuai dengan usia anak.

Perkembangan Anak 23 Bulan

Setiap balita adalah anak yang unik. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Anak Anda mungkin juga akan tumbuh dengan cara yang berbeda dari rekan-rekannya. Untuk mengetahui tahapan perkembangan anak 23 bulan, cek beberapa hal berikut:

  • Mengukur tinggi, berat badan, dan lingkar kepala anak
  • Membandingkan berat badan dan tinggi badannya dengan ukuran anak-anak lain seusianya.
  • Memeriksa tinggi dan berat badannya, serta catatlah di buku perkembangan anak.

Tips Mendukung Perkembangan Anak 23 Bulan

  1. Tegas dan Berkomitmen

      Si kecil merengek minta dibelikan mainan dan Anda tidak menyetujuinya? Yang jelas, menangis atau tantrum adalah salah satu cara anak bernegosiasi. Jangan bertindak dengan kekerasan atau memarahi anak, karena itu tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, biarkan anak berhenti menangis dan tenang dahulu, baru kemudian memberinya penjelasan.

  • Membiasakan Makanan Sehat

      Soal makanan, lebih baik mulai membiasakan memberi makanan sehat dan menghindari junk food. Biasakan anak memakan buah-buahan, sayuran dan hindari minuman bersoda atau gorengan.

3.   Sakit Telinga

      Saat balita sakit telinga, kemungkinan ia hanya menangis dan mencoba menarik-narik telinga, serta sedikit rewel dari biasanya. Segera temui dokter untuk menghindari infeksi yang lebih serius.

4.   Mengajak Berkarya Seni

      Perkembangan anak usia 23 bulan juga bisa ditingkatkan dengan mendorong kreativitas si kecil melalui kesenian. Ajak si kecil untuk menggambar, melukis, atau membuat karya seni. Berikan ia krayon, plastisin, cat lukis, dan sebagainya.

5.   Mengajak Balita Berenang

      Jika Anda membawa balita berenang di kolam renang, pengawasan harus lebih ekstra hati-hati dan jangan pernah meninggalkan si kecil bermain air sendirian. Jangan lupa memakai tabir surya untuk melindungi kulit balita dari paparan sinar matahari atau sunburn.

6.   Meluangkan Waktu “me time”

      Ketika anak tidur, tidak ada salahnya untuk mengambil waktu jeda untuk diri Anda sendiri alias me time. Anda bisa menelepon teman dan mengobrol, membaca buku, bersantai sambil menonton TV, atau hanya berbaring dan ikut beristirahat untuk mengusir lelah. Membesarkan balita dalam tahap perkembangan anak usia 23 bulan memang sedikit melelahkan, namun semua akan terbayar dengan keceriaan dan senyuman si kecil yang senantiasa sehat.

Read More

6 Jenis Makanan yang Membantu untuk Menurunkan Berat Badan

Cara terbaik saat Anda berusaha menurunkan berat badan biasanya adalah dengan berolahraga yang rajin. Namun, kenyataannya berolahraga saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan kebiasaan sehat seperti mengonsumsi makanan sehat. Pernah terbayangkan jika mengonsumsi coklat mampu menurunkan berat badan? Tentunya sangat menyenangkan, bukan? Menurut beberapa penelitian, kini ada beberapa jenis makanan yang dapat membantu Anda dalam masalah diet tanpa merugikan kesehatan.

Berikut ini adalah beberapa jenis makanan untuk menurunkan berat badan Anda secara sehat.

  1. Mengonsumsi Air Putih

Istilah di atas mengacu pada kesalahan orang-orang saat melakukan diet. Terkadang Anda lupa bahwa tubuh harus tetap terhidrasi dengan air sehingga melupakan rasa ‘lapar’ karena kehausan. Jika saat diet Anda merasa lapar, maka sebaiknya konsumsi air putih secara teratur. Namun, ada baiknya pula jika Anda mengonsumsi buah yang memiliki kadar air sebanyak 80%-90%.

  • Mengonsumsi Serat

Menurut penelitian, seseorang yang mengonsumsi biji-bijan akan mudah mengatur berat badannya. Serat yang terkandung dalam biji-bijian dapat membuat Anda merasa kenyang. Banyak dari orang Amerika yang mendapatkan saran untuk mengonsumsi setengah dari 30 hingga 35 gram serat. Bahkan serat yang tertinggi dimiliki oleh buah serta sayuran. Jadi, tunggu apalagi untuk Anda menunda mengonsumsi serat?

  • Mengonsumsi Kedelai

Kita semua mengetahui bahwa kedelai merupakan salah satu makanan yang kaya akan kalsium. Jika Anda tidak menyukai susu, maka cara terbaik untuk mendapatkan kalsium adalah dengan mengonsumsi kedelai. Saat ini banyak jenis makanan yang mengandalkan kedelai di dalamnya, salah satunya adalah tahu dan tempe yang menjadikan keduanya sebagai menu makanan untuk menurunkan berat badan yang pas.

  • Mengonsumsi Susu Kalsium

Banyak orang mengatakan bahwa jika Anda tengah melakukan diet, namun tidak mengonsumsi susu kalsium maka kalori yang berkurang tidak sebanyak seseorang yang meminum susu kalsium. Hal ini tentu beralasan, menurut penelitian teori bahwa kalsium dapat melawan kalori sehingga menyebabkan Anda dapat menurunkan berat badan lebih banyak ketimbang yang tidak mengonsumsi susu.

  • Mengonsumi Biji-bijian

Biji-bijian merupakan sumber dari kalori terbesar, namun di dalamnya juga terkandung protein, serat, dan lemak yang ‘baik’ untuk tubuh. Seggenggam (berisi 10 hingga 12 biji) kacang almond atau kenari dapat membantu anda untuk menurunkan resiko hati, kanker, serta diabetes.

  • Mengonsumsi Teh Hijau

Saat ini teh hijau sudah lumrah dikonsumsi, terlebih oleh masyarakat Indonesia. Minuman ini sangat kaya akan kandungan antioksidan dan membantu menjaga serta meningkatkan kekebalan tubuh. Mengonsumsi teh hijau disarankan sebanyak 2 hingga 3 cangkir dalam sehari.

Menurunkan berat badan memang susah-susah gampang. Berolahraga serta mengonsumsi makanan untuk menurunkan berat badan juga menjadi salah satu faktor penunjang bagi Anda yang sedang melakukan diet. Semoga artikel ini dapat membantu Anda yang sedang atau akan melakukan diet.

Read More

Jatuh dengan Posisi Duduk? Waspadai Risiko Cedera Tulang Ekor Ini

Tulang ekor (coccyx) merupakan tulang kecil yang terletak pada bagian bawah tulang belakang. Saat seseorang jatuh dengan posisi duduk di mana tulang ekor menjadi bagian yang terbentur, akan ada risiko terjadinya cedera tulang ekor. Cedera tulang ekor ini biasanya akan menimbulkan rasa nyeri akibat memar tulang atau peregangan ligamen. Tidak hanya itu, cedera tulang ekor juga dapat menyebabkan memar, dislokasi, serta patah pada tulang ekor. Meskipun relatif membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sembuh, mayoritas cedera tulang ekor dapat disembuhkan dengan perawatan yang tepat dan cepat.

Penyebab Cedera Tulang Ekor
Sebagian besar cedera tulang ekor disebabkan oleh trauma pada daerah tulang ekor. Trauma tulang ekor biasanya terjadi saat:

  • Jatuh dengan benturan pada lantai yang keras pada tulang ekor dalam posisi duduk.
  • Pukulan langsung pada tulang ekor, seperti yang terjadi saat melakukan aktivitas fisik berat dan olahraga yang dapat melukai tulang ekor.
  • Tulang ekor yang terluka atau retak karena proses persalinan.
  • Strain berulang atau gesekan terhadap tulang ekor saat bersepeda atau mendayung.
  • Dampak dari infeksi lokal dan tumor.

Gejala Cedera Tulang Ekor

Jika Anda mengalami trauma di area tulang ekor, waspadai beberapa gejala cedera tulang ekor yang mungkin terasa, seperti:

  • Nyeri yang parah pada area tulang belakang.
  • Apabila terjadi cedera traumatis, akan muncul memar.
  • Rasa sakit menjadi lebih parah saat duduk dalam waktu yang lama dengan tekanan langsung ke daerah tulang ekor.
  • Timbul rasa sakit saat ada pergerakan usus dan kesulitan saat mengejan.
  • Pada wanita, akan terasa sakit saat berhubungan seksual.

Pengobatan Cedera Tulang Ekor
Jika Anda mengalami tanda dan gejala cedera tulang ekor atau rasa ridak nyaman yang tidak dapat dijelaskan di daerah tulang ekor, segera lakukan pemeriksaan pada dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan apakah Anda mengalami cedera traumatis atau masalah lain yang lebih serius. Biasanya, dokter akan mengambil informasi mengenai riwayat medis dan pemeriksaan fisik, dan jika diperlukan akan dilakukan foto sinar-X.

Apabila tidak ditemukan hal yang serius, biasanya dokter akan mengizinkan Anda untuk pulang dan melakukan perawatan di rumah. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu Anda pahami untuk melakukan perawatan rumah terhadap cedera tulang ekor, di antaranya:

  1. Hindari duduk dalam jangka waktu yang lama. Saat duduk, hindari duduk di permukaan yang keras dan upayakan untuk menumpu pada salah satu sisi bokong secara bergantian.
  2. Untuk cedera traumatis, kompreskan es ke daerah tulang belakang selama 15-20 menit, empat kali sehari, dalam beberapa hari pertama setelah cedera. Hal ini penting untuk mengurangi bengkak dan meredakan rasa sakit.
  3. Konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid seperti aspirin atau ibuprofen untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kemampuan Anda untuk bergerak.
  4. Konsumsi makanan tinggi serat untuk melembutkan kotoran dan menghindari sembelit.


Selain perawatan di rumah, dokter juga memberikan bantuan lebih lanjut dengan intervensi medis termasuk tindakan operasi bedah jika ada kondisi yang serius. Berikut ini adalah beberapa tindakan medis yang biasanya diberikan dokter:

  1. Obat nyeri untuk meredakan rasa sakit.
  2. Obat untuk melunakkan kotoran untuk mencegah konstipasi.
  3. Suntikan anastesi lokal pada tulang ekor untuk nyeri yang berkelanjutan.
  4. Tindakan operasi.

Pencegahan Cedera Tulang Ekor Meskipun tidak berisiko tinggi, ada baiknya untuk selalu menghindari terjadinya cedera, khususnya pada tulang ekor. Meskipun kecelakaan sangat sulit untuk diprediksi, Anda dapat berupaya mencegah cedera tulang ekor dengan lebih berhati-hati dan menggunakan pelindung saat melakukan olahraga fisik yang berpotensi mencederai tulang ekor.

Read More

Kenali Gejala Flu dan Komplikasinya pada Lansia

Flu adalah serangan virus musiman yang memiliki gejala ringan hingga serius. Beberapa penderita bisa sembuh dalam hitungan seminggu. Namun, ada pula yang bisa mengalami komplikasi serius yang mengancam keselamatan jiwa.

Risiko komplikasi flu meningkat pada lansia berusia di atas 65 tahun. Para lansia cenderung memiliki sistem imun tubuh yang lebih lemah karena penuaan. Hal ini lumrah, tetapi akibatnya, tubuh lebih sulit menangkal dan melawan serangan virus.

Jika infeksi flu memburuk, maka komplikasinya bisa berakibat pada pneumonia atau radang paru yang membutuhkan penanganan rumah sakit. Kasus ini bahkan bisa berujung kematian. Jika Anda maupun anggota keluarga Anda berusia di atas 65 tahun, pahami dulu gejala flu, komplikasi dan cara pencegahannya demi kesehatan.

Gejala Flu pada Lansia

Serangan flu bisa terjadi sangat cepat, dalam hitungan 1-4 hari setelah terpapar virus influenza. Jika Anda jatuh sakit, penting untuk mengetahui perbedaan gejala flu dengan gejala pilek biasa. Flu dan pilek hampir sama, tetapi gejala pilek biasanya lebih ringan dan tidak mendadak serius.

Sedangkan pada gejala flu, serangannya biasanya mendadak dan ditandai dengan gejala yang tidak umum ditemukan pada gejala pilek biasa. Gejala flu dan pilek biasa di antaranya adalah:

  • Hidung meler
  • Hidung tersumbat
  • Sakit tenggorokan
  • Batuk

Sedangkan tambahan untuk gejala flu adalah :

  • Demam
  • Ngilu pada badan
  • Meriang
  • Lelah
  • Lemah
  • Tidak nyaman pada bagian dada
  • Sakit kepala

Jika Anda lansia diatas usia 65 tahun dan mengalami gejaal tersebut, segera kunjungi dokter untuk mengurangi risiko komplikasi. Jika Anda berkunjung ke dokter dalam 48 jam pertama sejak gejala flu menyerang, maka dokter akan memberikan resep antivirus. Semakin cepat Anda mengkonsumsi obat, maka durasi sakit dan tingkat keparahan bisa dikurangi dengan tepat.

Komplikasi Flu pada Lansia

Komplikasi flu tidak umum ditemukan pada mereka yang berusia muda atau orang dengan kekebalan tubuh yang baik. Namun hingga 85% dari serangan flu musiman bisa mengakibatkan kematian pada lansia diatas usia 65 tahun.

Selain itu, sekitar 70% dari kasus rumah sakit yang berkaitan dengan flu sering menimpa kelompok usia yang sama.

Komplikasi flu bisa bervariasi, dari yang tidak begitu parah, hingga parah dan berpotensi menimbulkan sinus atau infeksi telinga, serta komplikasi serius seperti radang paru-paru ( bronkitis dan pneumonia).

Bronkitis muncul saat terjadi radang pada saluran bronkial, yaitu pipa pernafasan yang mengalirkan udara ke paru-paru. Gejalanya antara lain :

  • Batuk berdahak yang berwarna kuning, abu atau hijau
  • Lelah
  • Sulit bernapas
  • Demam
  • Sakit bagian dada

Bronkitis bisa memicu pneumonia atau infeksi radang kantong udara pada satu atau kedua paru-paru. Pneumonia dapat mengakibatkan rasa sakit pada bagian dada, sulit bernapas dan batuk hebat. Pada lansia, pneumonia juga bisa mengakibatkan turunnya suhu tubuh, sulit konsentrasi/bingung, mual dan muntah.

Pneumonia adalah komplikasi yang serius. Jika tidak diatasi, maka bakteri bisa mengalir ke darah dan menyebabkan gagal organ. Infeksi bisa mengakibatkan akumulasi cairan pada bagian paru-paru.

Komplikasi lain dari flu pada lansia adalah radang atau pembengkakan jantung, otak dan otot – juga gagal organ pada beberapa titik. Lansia dengan penyakit asma atau penyakit jantung juga akan semakin menderita akibat serangan flu yang memperparah penyakit kronis ini.

Oleh karena itu, jangan anggap remeh gejala flu pada lansia dan segera hubungi dokter jika anda mengalami keluhan sulit bernafas, sakit pada dada, pusing, muntah dan sulit fokus/bingung.

Cara Merawat & Mencegah Flu

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, segera hubungi dokter dalam kurun waktu 48 jam jika terjadi gejala flu pada lansia. Pengobatan antivirus bisa memperpendek durasi sakit sekaligus mengurangi gejala infeksi. Pengobatan ini juga bisa diteruskan jika ada risiko tinggi atas komplikasi flu.

Karena flu disebabkan oleh virus, maka tidak ada pengobatan selain menunggu hingga virus tuntas pada tubuh. Namun gejala flu seperti sakit dan demam, bisa diredam dengan menggunakan obat biasa, misalnya ibuprofen.

Resep antibiotik juga bisa diberikan untuk mengurangi potensi infeksi lanjutan, seperti infeksi telinga, infeksi sinus, bronkitis atau pneumonia. Dokter juga akan memberikan obat batuk sesuai kebutuhan.

Penting bagi penderita serangan flu untuk banyak beristirahat demi meningkatkan imunitas tubuh dan melawan virus. Dengan perawatan yang telaten di rumah, Anda bisa sembuh dalam kurun waktu 1-2 minggu.

Untuk pencegahan flu, lakukan tips berikut:

  • Lakukan vaksin flu. Konsultasikan pada dokter.
  • Hindari tempat ramai, gunakan masker wajah untuk menghindari potensi tertular.
  • Sering mencuci tangan dengan benar
  • Hindari memegang wajah, hidung, telinga dengan tangan
  • Jalani gaya hidup sehat, berolahraga dan jauhi stress
  • Membersihkan permukaan rumah dengan cairan disinfektan
  • Segera kunjungi dokter saat gejala flu menyerang

Ambil langkah pencegahan flu, terutama untuk lansia diatas usia 65 tahun agar terhindar dari komplikasi. Segera hubungi dokter jika gejala flu menyerang karena akan sangat bermanfaat untuk kesembuhan yang lebih cepat!

Read More